• Bukan Menyandera, Warga Riau Mengaku Hanya Tanyai Penyidik KLHK

    Reporter: Andreas Setiawan
    Published: 06 September, 2016
    A- A+
    Pekanbaru - Ketua Badan Pemberdayaan Desa (BPD) Bonai, Kabupaten Rokan Hulu, Jefriman membantah adanya penyanderaan terhadap tujuh penyidik kehutanan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) oleh puluhan warganya.

    Menurut Jefriman, ia bersama warga hanya bertanya terkait kedatangan penyidik kehutanan tersebut yang belakangan diketahui menyegel lahan terbakar diduga milik PT APSL di desa tersebut.

    PT APSL kini disorot setelah direktur perusahaan berfoto bersama dengan para pejabat Polda Riau sambil mengangkat gelas.

    "Tidak ada penyanderaan seperti yang disebutkan Bu Menteri (Siti Nurbaya). Dan tidak ada pencabutan plang segel. Kami hanya bertanya maksud kedatangan mereka," kata Jefriman, Senin petang, 5 September 2016.

    Dia menyebut, kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman dan menyampaikan permohonan maaf kepada Siti Nurbaya. "Mungkin apa yang kami lakukan dinilai salah secara hukum, kami menyampaikan permohonan maaf," kata dia.

    Menurut dia, aksi puluhan warga dilakukan secara spontan terkait penyegelan yang dilakukan Tim KLHK. Masyarakat bertanya apa maksud petugas dan hendak berdiskusi. Apalagi saat itu, para petugas tidak didampingi perwakilan pemerintah daerah.

    "Spontan sebagai rasa tidak terima apa yang telah dilakukan. Karena biasanya, ada yang mendampingi dari pemerintah daerah," kata Jefriman.

    Terkait adanya kontak fisik dan desakan masyarakat menghapus dokumentasi lahan terbakar di desa tersebut, Jefriman menyebutnya tidak benar sama sekali. "Tidak ada pemaksaan membongkar peralatan yang dibawa. Tapi mereka yang menawarkan, mereka menyebut kalau kami keberatan bisa dihapus," ucap Jefriman.

    Terkait terbakarnya ratusan hektare lahan di desa tersebut, Jefriman menyebutnya bukanlah milik perusahaan, melainkan lahan yang sudah dikelola secara turun temurun. Posisi PT APSL, kata dia, hanya sebagai bentuk kerja sama antara masyarakat dengan perusahaan.

    "Kami bekerja sama dengan perusahaan dan apa yang kami lakukan untuk menyambung hidup. Kami membangun kebun di lahan turun secara temurun. Hasilnya dibagi dua antara perusahaan dan masyarakat," ujar dia.

    Dia menjelaskan, pengelolaan lahan sudah dilakukan sejak 2008. Sawit yang ditanam sudah produktif karena sudah berbuah. Dengan ini, dia menyebut tidak mungkin warga membakar dengan sengaja.
  • Comment On This Post